GUSTIAN RI'PI

Informatics Engineering, University of Brawijaya

About Me

WHO AM I?

Hello. My name is Gustian Ri'pi. You can call me Gusti. I am now 20 years old. I'm from Toraja, but there also lived in Malang. I'm studying of Informatics Engineering at Brawijaya University . In university I was the assistant practice of Web Programmming in my department for 2 semesters.

I has successfully completed my tenure as a Manager of Visual Image division, Creative Design and Information System Department, Indonesian Future Leaders (IFL) Chapter Malang 2016/2017. It's a non-profit youth-led organisation which focuses its activity on youth empowerment and social voluntarism.

I'm not a Graphic Designer. Well nearly, I'm still a student. And i'm looking to secure some amazing work experience with your creative company. we could be great together. I decide to do something really really cool time consuming. I'm passionate about Design Graphic, Internet Marketing, Web Design, Social Media Strategist. I'm available to work part-time.

Gustian Ri'pi ig: gusti8official

My Services

WHAT I CAN DO

Web Designing

Graphic Designing

Content Writing

I can see design in everything! I am highly motivated, Very imaginative by finding inspirations in everyday thing. I can also follow the latest trends and create my own output. Pushing my own boundaries, allowing myself to think outside of the box and lastly I dont' stop learning.

Please don't hesitate to contact me if you have any questions.
Email: gustian.pkl@gmail.com

  • HTML = 92%
  • Corel Draw = 87%
  • MySQL = 73%
  • CSS = 90%

My Blog

I Write What I Like
Tugas Ospek Maba UB 2017 (Raja Brawijaya Adipati 55)

COMING SOON



Halo Mahasiswa baru Universitas Brawijaya!
Selamat datang di Kampus Perjuangan. Selamat berproses dan ukirlah sejarah serta prestasi yang membanggakan untuk Brawijaya.

KITA SATU BRAWIJAYA !!

Kami hadir untuk memfasilitasi kalian untuk saling berkenalan, mengakrabkan diri satu angkatan sebagai kawan perjuangan, dan juga untuk menyampaikan informasi-informasi seputar UB khususnya dari ragkaian pendaftaran ulang sampai pelaksanaan OSPEK atau yang dikenal dengan Istilah Raja Brawijaya dan PKK Maba.

Cara gabung gimana?
1. Add Line Admin: (id nya: halobrawijaya atau klik  http://line.me/ti/p/~halobrawijaya ) lalu kirimkan SCREENSHOOT PENGUMUMAN diterima SNMPTN/SBMPTN/Mandiri, Kartu Tanda Peserta SNMPTN/SBMPTN/Mandiri, dan Kartu Pelajar/KTP.

2. Add Line OA 'Halo Brawijaya' (ID nya: : @HSN3894K atau klik  https://line.me/R/ti/p/%40hsn3894k ) dan jangan lupa like postingan di Beranda/Home OA Halo Brawijaya.

Bagi yang sudah melakukan syarat diatas, Harap bersabar karena banyaknya chat yang masuk sehingga butuh waktu verifikasi dari admin. Anda akan menerima invite dari kami jika sudah kami verifikasi. Gunakan Foto Profil dan nama yang real untuk mempercepat dan memudahkan verifikasi kami.

MEMBER GRUP WAJIB MENAATI ATURAN YANG TELAH ADA DI SETIAP NOTE GRUP.

HATI-HATI TERHADAP AKUN LINE BERKEDOK GRUP MABA. INI ADALAH SATU-SATUNYA GRUP RESMI MILIK HALO BRAWIJAYA. Selain Itu, Maka DILUAR TANGGUNG JAWAB KAMI. 

MOHON MAAF BAGI MEMBER YANG JOIN GRUP ATAU MENG-INVITE ORANG LAIN  KE GRUP TANPA SEIZIN ADMIN AKAN KAMI KICK.

Halo Brawijaya!
-Ringan Mencerdaskan-
Line: https://line.me/R/ti/p/%40hsn3894k
Mahasiswa Baru, Hati-Hati memilih Organisasi!

Organisasi mahasiswa merupakan sebuah wadah di mana mahasiswa dapat mrengembangkan diri, beraktivitas dan menyalurkan minat dan bakat mereka. Mahasiswa akan mengenal 2 jenis organisasi, ada Intra dan EKstra. 

Organisasi Intra Kampus itu kayak EM, BEM, DPM, HMJ, dan UKM/Unitas, serta Forda (Forum daerah). Kalau di SMA itu sejenis OSIS, dan kegiatan Ekstrakurikuler. Dimana Organisasi tersebut bersifat resmi dan diakui kebaradaannya oleh Kampus.

Sedangkan Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (OMEK) itu adalah organisasi mahasiswa yang tidak mendapatkan SK dan dana dari pihak rektorat maupun dekanat. Artinya organisasi tersebut tidak terikat dengan struktural kampus.

Apakah OMEK itu organisasi terlarang?

Memang dalam perkembangan sejarahnya OMEK mempunyai peranan dalam melahirkan tokoh-tokoh besar di Indonesia, seperti Jusuf Kalla, Anies Baswedan, Mahfud MD,dll. Walaupun beberapa diantara mereka akhirnya tertankap juga oleh KPK karena terlibat Korupsi, seperti: Anas Urbaningrum, Andi Alfian Mallarangeng, Wa Ode Nurhayati, Abdullah Puteh, Zulkarnaen Djabar, Akil Mochtar, Haris Andi Surrahman, dll

Namum seiring berjalannya waktu, organisasi tersebut banyak yang ditunggangi kepentingan politik sehingga situasi dan kondisi dalam kampus menjadi tidak menentu dan dipakai sebagai sarana politik praktis untuk masuk ke dalam kampus. Kenyataannya, secara Organisasi, OMEK memang lebih banyak berafiliasi dengan kekuatan Politik. Entah itu Partai politik, politisi, atau birokrat.

Karena itulah, pada tahun 2002 dikeluarkanlah Surat Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor : 26/DIKTI/KEP/2002, melarang Organisasi Ekstra Kampus atau Partai Politik dalam kehidupan kampus.

Lalu, Apa saja OMEK itu?

Menurut beberapa sumber, berikut ini adalah organisasi yang dikategorikan kedalam OMEK :
- HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)
- KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Islam Indonesia)
- PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)
- PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia)
- GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia)
- IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)
- GMKI,FMN, LMND, dsb

Mahasiswa Baru (MABA) target Pengkaderan OMEK.


Musim penerimaan Mahasiswa baru yang merupakan agenda tahunan di setiap kampus, yang rutin diadakan untuk menyambut para mahasiswa baru justru dimanfaatkan oleh sebagian dari OMEK untuk merekrut anggota, terutama mahasiswa baru. 

Hal ini seperti menjadi ajang yang rutin dilakukan beberapa organisasi eksternal untuk melakukan pengkaderan dan sampai sekarang belum dapat ditanggulangi, baik dari pihak kampus maupun pihak panitia OSPEK sendiri. 

Pengkaderan-pengkaderan ini sudah dimulai semenjak mahasiswa baru melakukan pendaftaran ulang hingga acara OSPEK itu sendiri. Ada bermacam-macam modus pengkaderan yang dilakukan, seperti dengan menyebar pamflet, sms, dll. 

Bagi mereka Mahasiswa baru (Maba) adalah sasaran empuk dalam pengkaderan OMEK. Mahasiswa baru merupakan target yang dianggap paling labil untuk ditanamkan ideologi yang dibawa oleh OMEK. OMEK-OMEK tersebut akan mengunakan cara-cara yang “manis” dan “lembut” diserta iming-iming atau memaparkan kisah sukses alumni OMEK mereka agar para mahasiswa yang “kosong” dapat ikut sebagai anggota mereka (OMEK).

Kenapa harus anti OMEK?

Secara khusus, Pembantu Rektor III UB periode sebelumnya, Bapak Ainurrasjid menyoroti keberadaan organisasi mahasiswa ekstra kampus (OMEK) seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang mewarnai kelembagaan di kampus dan menyebabkan fragmentasi ideologis serta kepentingan. Mengenai ini ditegaskannya, secara administratif PR-III melarang segala bentuk keberadaan OMEK di dalam kampus. 

OMEK sudah keterlaluan melakukan doktrin kepada kader-kadernya. Biarlah mereka bergerak dengan kesadaran sendiri, bukan dengan doktrin. Biarkan kampus melahirkan idealis sendiri yang lahir dari pemikiran mahasiswa bukan dari oknum yang hanya ingin memanfaatkan kampus sebagai media untuk kepentingan golongan/sendiri.


Apa Agenda OMEK di lingkungan Kampus?


Harus diakui memang kampus telah menjadi “ladang” untuk mencari kader-kader intelektual bagi OrMEK. Dan sangat mungkin sekali salah satu alasan OrMEK muncul secara halus melalui berbagai kegiatan dikampus adalah untuk merekrut kader-kader intelektual muda. seperti yang saya sebutkan diatas bahwa target mereka adalah Mahasiswa baru.

Jumlah mahasiswa yang tidak sedikit disebuah kampus merupakan peluang dan potensi untuk membentuk basis massa yang dikelola untuk kepentingan tertentu.

Perlu juga kita ketahui bahwa OMEK berperan pada beberapa peristiwa Demokrasi dan sejarah di Indonesia. Ada banyak kontribusi prositif yang telah dilakukan OMEK ini kepada bangsa indonesia.

Tapi mengingat adanya aturan kampus yang melarang kehadiran OMEK dan Partai Politik, beberapa kader OMEK yang juga aktif di Organisasi internal kampus harus berhati-hati dalam mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan OMEK tersebut.

Benarkah BEM dikuasai oleh Kader OMEK?

Kami sendiri belum dapat menyimpulkan secara tegas untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tetapi fakta bahwa ada mahasiswa UB yang aktif di kegiatan OMEK juga aktif di Organisasi internal sepertinya sudah tidak bisa dibantah lagi. OMEK memang identik dengan kekuasaan, bahkan pada saat pemira (pemilihan mahasiswa raya) calon-calon yang mendaftar mayoritas dari kader OMEK. sehingga menjadi ajang politik praktis untuk mengakomodasi kepentingan mereka atau golongan politik yang berafiliasi dengan OMEK mereka.

Apakah OMEK sama dengan Komunitas luar kampus?


Meskipun sama-sama beraktivitas diluar kampus tetapi kedua hal ini jelas BERBEDA. OMEK mempunya ciri khas berlabel agama dan identik dengan politik, sedangkan Komunitas adalah perkumpulan anak muda, bukan hanya mahasiswa yang sama-sama menggemari hobby tertentu, atau fokus ke bidang tertentu seperti Bidang Lingkungan, Pendidikan, Seni, Sosial, dll.

Pesan terakhir Untuk Mahasiswa Baru Universitas Brawijaya (UB):


Mahasiswa Baru UB perlu menyikapi dengan kritis dan bijak permasalah OMEK ini. Jangan mudah terbujuk untuk terlibat pada kegiatan OMEK.

Misal saja, jika mahasiswa ingin bisa menulis, maka ia akan lebih memilih ikut UKM atau komunitas kepenulisan. Jika ingin bermain musik, maka ikut UKM Musik. Ingin konsentrasi ke penelitian maka ikut UKM Penelitian. Jika ingin aktif diluar kampus, ikutlah komunitas-komunitas yang positif dan bermanfaat. Kalian juga bisa ikut Forum Daerah (FORDA) masing-masing. 

Kalau ikut OMEK, apa fokusnya?
OMEK memang mengklaim bahwa Organisasi mereka adalah organisasi pergerakan dan pengkaderan intelektual muda. Tapi ketika OMEK memiliki afiliasi dengan parti politik tertentu, sangat besar kemungkinan mereka akan menjalankan kegiatan politik praktis.

Kalaupun sudah terlibat, pastikan bisa bersikap profesional dengan tidak mencampur-adukan kepentingan Organisasi internal dengan eksternal.

Mungkin ada yang bertanya, Organisasi Keagamaan di UB yang resmi itu apa aja?. 
- UAKI (Unit Aktivitas Keagamaan Islam)
- UAKK (Unit Aktivitas Keagamaan Kristen)
- UAKKat (Unit Aktivitas Keagamaan Katholik)
- UAKB (Unit Aktivitas Keagamaan Budha)
- UNIKAHIDA (Unit Aktivitas Keagamaan Hindu Dharma)
Mereka tergabung dalam UKM di UB, bukan OMEK. Ada 46 UKM bidang olahraga dan seni serta keterampilan lain yang bisa kalian ikuti. Kalian bebas ikut kegiatan apapun, asal positif, dan tidak bertentangan dengan Pancasila dan NKRI.

Salam. Hidup Mahasiswa!
Waspada, Radikalisme Menyusup ke SMU dan "Bergerilya" di Kampus

Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) sempat bertemu dengan Kapolres Malang Kota, AKBP Hoiruddin Hasibuan beberapa waktu lalu.

Ketua FKUB Kota Malang, H Ahmad Taufiq Kusuma menyebut pertemuan itu untuk mencegah perkembangan paham radikalisme, anti Pancasila, dan anti NKRI.

Dalam diskusi itu disebutkan mahasiswa menjadi sasaran utama penyebaran aliran radikalisme. Makanya kegiatan dan aktivitas mahasiswa harus selalu dipantau agar tidak terjerumus ke paham radikal.

“FKUB juga diskusi dengan tokoh di perguruan tinggi sebagai upaya untuk mencegah masuknya paham radikal. Kami selalu turun ke lapangan bila ada letupan sekecil apapun terkait agama. Kami juga sampaikan info itu ke Polres,” kata Ahmad Taufiq Kusuma kepada SURYAMALANG.COM, Sabtu (10/6/2017).

Sementara itu, AKBP Hoirudin Hasibuan mengatakan tokoh lintas agama memiliki peran strategis untuk mengantisipasi perkembangan pemikiran anti Pancasila dan anti NKRI.

“Dalam penanganan teroris dan radikalisme, Polri tidak mungkin bekerja sendiri. Peran tokoh agama sangat dibutuhkan,” kata Hoirudin.

Menurutnya, radikalisme dan penganut pahamnya merupakan hal yang akhir-akhir ini hangat diperbincangkan oleh masyarakat luas, baik nasional maupun internasional. Oleh karena itu, perlu perhatian utama dari Polri pada kedatangan orang baru pun mahasiswa baru agar tidak dibina oleh kelompok kelompok radikal.

Selain itu, kekhawatiran yang sama juga diungkapkan Prof. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta. 

[Radikalisme Islam Menyusup ke SMU]

Siswa-siswi yang masih sangat awam soal pemahaman agama dan secara psikologis tengah mencari identitas diri ini menjadi lahan yang diincar oleh pendukung ideologi radikalisme. Targetnya bahkan menguasai organisasi-organisasi siswa intra sekolah (OSIS), paling tidak bagian rohani Islam (rohis).
Tampaknya jaringan ini telah mengakar dan menyebar di berbagai sekolah, sehingga perlu dikaji dan direspons secara serius, baik oleh pihak sekolah, pemerintah, maupun orang tua. Kita tentu senang anak-anak itu belajar agama. Tetapi yang mesti diwaspadai adalah ketika ada penyebar ideologi radikal yang kemudian memanfaatkan simbol, sentimen, dan baju Islam untuk melakukan cuci otak (brainwash) pada mereka yang masih pemula belajar agama untuk tujuan yang justru merusak agama dan menimbulkan konflik.
Ada beberapa ciri dari gerakan ini yang perlu diperhatikan oleh guru dan orang tua. 

Pertama, para tutor penyebar Ideologi kekerasan itu selalu menanamkan kebencian terhadap negara dan pemerintahan. Bahwa pemerintahan Indonesia itu pemerintahan taghut, syaitan, karena tidak menjadikan Alquran sebagai dasarnya. Pemerintahan manapun dan siapa pun yang tidak berpegang pada Alquran berarti melawan Tuhan dan mereka mesti dijauhi, atau bahkan dilawan. 

Kedua, para siswa yang sudah masuk pada jaringan ini menolak menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, terlebih lagi upacara hormat bendera. Kalaupun mereka melakukan, itu semata hanya untuk mencari selamat, tetapi hatinya mengumpat. Mereka tidak mau tahu bahwa sebagai warga negara mesti mengikuti dan menghargai tradisi, budaya, dan etika berbangsa dan bernegara, dibedakan dari ritual beragama. 

Ketiga, ikatan emosional pada ustaz, senior, dan kelompoknya lebih kuat daripada ikatan keluarga dan almamaternya. 

Keempat, kegiatan yang mereka lakukan dalam melakukan pengajian dan kaderisasi bersifat tertutup dengan menggunakan lorong dan sudut-sudut sekolah, sehingga terkesan sedang studi kelompok. Lebih jauh lagi untuk pendalamannya mereka mengadakan outbond atau mereka sebut rihlah, dengan agenda utamanya renungan dan baiat.

Kelima, bagi mereka yang sudah masuk anggota jamaah diharuskan membayar uang sebagai pembersihan jiwa dari dosa-dosa yang mereka lalukan. Jika merasa besar dosanya, maka semakin besar pula uang penebusannya. 

Keenam, ada di antara mereka yang mengenakan pakaian secara khas yang katanya sesuai ajaran Islam, serta bersikap sinis terhadap yang lain. 

Ketujuh, umat Islam di luar kelompoknya dianggap fasik dan kafir sebelum melakukan hijrah: bergabung dengan mereka.
Kedelapan, mereka enggan dan menolak mendengarkan ceramah keagamaan di luar kelompoknya. Meskipun pengetahuan mereka tentang Alquran masih dangkal, namun mereka merasa memiliki keyakinan agama paling benar, sehingga meremehkan, bahkan membenci ustaz di luar kelompoknya.

Kesembilan, di antara mereka itu ada yang kemudian keluar setelah banyak bergaul, diskusi secara kritis dengan ustaz dan intelektual di luar kelompoknya, namun ada juga yang kemudian bersikukuh dengan keyakinannya sampai masuk ke perguruan tinggi. 

[Menyusup ke Kampus]

 Mengingat jaringan Islam yang tergolong garis keras (hardliners) menyebar di berbagai SMU di kota-kota Indonesia, maka sangat logis kalau pada urutannya mereka juga masuk ke ranah perguruan tinggi. Bahkan, menurut beberapa sumber, alumni yang sudah duduk sebagai mahasiswa selalu aktif berkunjung ke almamaternya untuk membina adik-adiknya yang masih di SMU.
Ketika adik-adiknya masuk ke perguruan tinggi, para seniornya inilah yang membantu beradaptasi di kampus sambil memperluas jaringan. Beberapa sumber menyebutkan, kampus adalah tempat yang strategis dan leluasa untuk menyebarkan gagasan radikalisme ini dengan alasan di kampuslah kebebasan berpendapat, berdiskusi, dan berkelompok dijamin. Kalau di tingkat SMU pihak sekolah dan guru sesungguhnya masih mudah intervensi, tidaklah demikian halnya di kampus.
Mahasiswa memiliki kebebasan karena jauh dari orang tua dan dosen pun tidak akan mencampuri urusan pribadi mereka. Namun karena interaksi intelektual berlangsung intensif, deradikalisasi di kampus lebih mudah dilakukan dengan menerapkan materi dan metode yang tepat. Penguatan mata kuliah Civic Education dan Pengantar Studi Islam secara komprehensif dan kritis oleh profesor ahli mestinya dapat mencairkan paham keislaman yang eksklusif dan sempit serta merasa paling benar.
Sejauh ini kelompok-kelompok radikal mengindikasikan adanya hubungan famili dan persahabatan yang terbina di luar wilayah sekolah dan kampus. Hal yang patut diselidiki juga menyangkut dana. Para radikalis itu tidak saja bersedia mengorbankan tenaga dan pikiran, namun rela tanpa dibayar untuk memberikan ceramah keliling. Lalu kalau berbagai kegiatan itu memerlukan dana, dari mana sumbernya? Ini juga suatu teka-teki.
Disinyalir memang ada beberapa organisasi keagamaan yang secara aspiratif dekat atau memiliki titik singgung dengan gerakan garis keras ini. Mereka bertemu dalam hal tidak setia membela NKRI dan Pancasila sebagai ideologi serta pemersatu bangsa. Mereka tidak bisa menghayati dan menghargai bahwa Islam memiliki surplus kemerdekaan dan kebebasan di negeri ini.
Di Indonesia ini ada parpol Islam, bank syariah, UU Zakat dan Haji, dan sekian fasilitas yang diberikan pemerintah untuk pengembangan agama. Kalaupun umat Islam tidak maju atau merasa kalah, lakukanlah kritik diri, tetapi jangan rumah bangsa ini dimusuhi dan dihancurkan karena penghuni terbanyak yang akan merugi juga umat Islam. Kita harap Menteri Pendidikan Nasional maupun Menteri Agama menaruh perhatian serius terhadap gerakan radikalisasi keagamaan di kalangan pelajar.(*)

Mari bantu bagikan informasi ini kepada teman-teman lain yang membutuhkan.

Halo Brawijaya!
-Ringan Mencerdaskan-

Statistik

  • Posts
  • Comments
  • Pageviews

Facebook Page

Followers

Contact Me

Get in touch